Selasa, 05 Mai 2015
BATAS AKHIR SEBUAH KETIDAKBERDAYAAN
Harus bagaimana lagi bahasa kutata,
ketika sembilu meyayatkan luka diatas luka lama,
sedangkan perih belum lagi hilang,
sebab sayatan yang terus berulang,
padahal sebenarnya, siapapun sama saja nilainya
bertaburan sumpah, janji bahkan dengan batasannya
bias bersama rayuan bianglala, kilaunya dunia
sampai sampai menghalalkan segala dusta,
apa nanti jadinya ??
senista itukah karma mesti dijalani ?,
tak ada lagi kah hati nurani sepanjang tarikan nafas,
padahal gamblang alur cerita bisa terbaca,
dari sikap, tutur kata bahkan susunan kalimatnya
bersisian satu dengan lain saat menuturkannya,
bahkan , kau pasti tak menyadarinya...
kalimat kalimat mu kehilangan tata bahasanya,
sebab mengemas dusta, menghindari suku kata,
setega itukah mestinya ?,
padahal sudah berupaya menerima apa adanya,
memahami fakta, sebab tuntutan hidup yang fana
sementara tak mampu berbuat lebih berharga,
maafkan ketidakberdayaan menata jiwa membara....
sungguh menyakitkan memilih buah malakama....
Makassar
Oleh : Drs Mustahari Sembiring.
Diposkan oleh : Teddy Silvanus









0 komentar:
Posting Komentar