Jum'at, 14 November 2014
MENGENANGMU
Menyaksikan gemerlapmu telah mematung bisu
Dalam bingkai potret di hari bersatunya petikan janji
Sebagai kata pemisahku dan dirimu, saat haru detik itu,
Seakan berucap tanda, tak lagi ada pangkuan sajak manja
Tuk mendekap erat haru yang ku sebut “masa lalu”.
Perlahan derap harap itu kembali
Mencairkan lelapku di sela himpitan ketakutan
Dengan bayang-bayangmu yang masih ku rindu.
Namun perlahan ia membukakan jalan padang
Menuntunku menuju arti jalanku meski tanpamu
Dan melepas jerat-jerat yang sempat ku jalani sendiri.
Tawaku memandang dunia tanpa ketakutan,
Menjalani detik demi detik di hamparan ketulusan
Melewati likuan jalanan pada tiap lelah akan menyambut malam
Hingga ku mengerti, jika tak lagi ada dirimu, mimpiku, dan saat itu.
Hmm,,,
Namun segalanya menjadi hampa
Kala jinggaku terpaku, menyaksikan penghianatan kejam
Darinya, tuk menjadikanku muram dengan juta’an serpihan.
Lalu aku berlari, mecari teduhan di jalan yang sendiri
Seperti pelarianku saat dirimu pergi menjauh dari gemuruh
Yang kutahu tak pernah kau mau, namun hanya dengan lemahmu
Sampai engganmu menyapa haru, mengakhiri gubahan sajak itu.
Tak lama ku kembali menyapa jutaan mata
Sembari melangkahi musim-musim yang tak lagi kering
Melanjutkan gubahan sajak bersama tumbuhnya dedaunan.
Namun untuk kisah ini, sesakku begitu menyerbu
Membedakan pasrahmu, dan sandiwara penuh luka darinya
Hingga menjadikan sajakku tak lagi bernuansa .
Dan kini tetap ku jalani, berharap musim segera berganti
Bernada tak sama, agar tak ada lagi harap yang hanya terucap,
Dan luka ini tetap menjejal semakin dalam
Menertawai sepiku di tempat peradaban ini,
Sembari mengusik jejak tentang kenanganmu di masa itu.
Oleh : Ikhtiyar Rezki Budi
Diposkan oleh : Teddy Silvanus
#TsL_P09









0 komentar:
Posting Komentar